Tradisi Slametan Dalam Pandangan Islam

Diposting oleh Taufik Adiluhur pada 09:02, 13-Des-11 • Di: FILSAFAT ISLAM , FILSAFAT JAWA
Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakatuh.
Apa kabar saudaraku sekalian? Semga rahmat dan karunia Allah SWT senantiasa bersama kitasemua. amiin smile. Melanjutkan artikal sebelumnya yang berjudul Tradisi Slametan Dalam Masyarakat Jawa. Namun yang akan dibahas disini adalah bagaimana tradisi slametan dipandang dari Hukum Islam. Sebelum membahas tentang pandangan islam terhadap tradisi slametan, terlebih dahulu kita simak pengertian Slametan itu sendiri.

Slametan dan Salamah dalam Islam

     Salam berasal dari salima – yaslamu – salaman – salamat (h) berarti selamat, bebas, menerima, rela (puas), damai.18 Terdapat 155 ayat yang secara derivatif berasal dari kata salima. QS. 7: 46, “Di antara keduanya ada batas, di atas a’raf itu ada orang yang mereka kenal, masing-masing dengan tanda mereka. Dan mereka menyeru penduduk surga dengan ‘salamun alaikum’…”. Kata salamun alaikum memiliki arti keselamatan dan rasa aman selalu menyertai kalian (penduduk surga).19 Selanjutnya, Quraish Shihab menjelaskan kata salam berarti luput dari kekurangan, kerakusan, dan aib. Kata selamat diucapkan, misalnya jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, tetapi kejadian tersebut tidak mengakibatkan pada kekurangan atau kecelakaan. Salam atau damai yang demikian adalah “damai positif” dan juga “damai aktif”, yakni bukan saja terhindar dari keburukan, tetapi lebih dari itu, dapat meraih kebajikan atau kesuksesan.

     Kedamaian, keamanan, dan kesentausaan adalah cita-cita dan tujuan setiap makhluk hidup. Oleh karena itu, Allah mengajak hamba-Nya ke negeri yang damai (dar al-salam) (QS. Yunus: 25). Allah sendiri adalah pangkalan kedamaian, keselamatan, dan kesentausaan (QS. al-Hasyr: 23). Tanpa adanya al-Salam (Allah) atau tanpa salam (kedamaian jiwa manusia), maka semuanya akan kacau, rusak, bahkan kehidupan akan berhenti. Dari keyakinan akan keesaan Tuhan, pada gilirannya melahirkan kedamaian dan ketentraman. Sebaliknya, pelanggaran dan pengingkaran pada Tuhan akan melahirkan kekacauan, ketidakpastian, kegelisahan, dan ketakutan.

       Bukti dalam sejarah kemanusiaan sebagaimana ditunjukkan oleh referensi qur’anik bahwa keingkaran (ke-kufur-an) —sebagai lawan kata ketundukan (ke-islam-an)— sebagai wujud kedzaliman pernah dialami oleh beberapa pelaku sejarah yang mengakibatkan degradasi dan kejatuhan “status” seperti yang dialami oleh Adam, penderitaan yang mencekam (dalam perut ikan) sebagaimana di alami oleh Yunus, serta “pelecehan” harga diri sebagaimana dialami oleh Yusuf. Meskipun dengan peristiwa tersebut akhirnya mereka menemukan kembali kepatuhan dan kepasrahan mereka, sekaligus menemukan keselarasan, keseimbangan, ketenangan, dan kedamain jiwa. Peristiwa yang dialami oleh para nabi sebagaimana disebut dalam al-Quran, paling tidak memiliki dua maksud. Pertama, peristiwa (kekufuran) tersebut menunjukkan adanya kebebasan diri untuk memilih. Artinya, manusia sebagai hamba Tuhan dilengkapi dengan potensi untuk bebas memilih antara patuh atau ingkar. Kedua, pelajaran tentang transformasi kesadaran. Kesadaran diperoleh melalui pengalaman, yang sekarang mungkin dapat disebut trial and error, tetapi tetap pada pendirian bahwa pengalaman tersebut memiliki tambatan yang kuat, yakni Tuhan.

     Berbeda dengan kekufuran sepanjang masa sebagaimana di alami oleh Fir’aun. Pelajaran yang dapat dipetik dari kisah kehidupan Fir’aun adalah “nihilis”, yakni dapat disebut sebagai “kekosongan ruhani ketuhanan”, sekalipun dia menyebut dirinya tuhan. Pengingkaran Fir’aun berakhir dibayar dengan social cost yang sangat mahal, yakni keterkungkungan, penindasan, serta penistaan citra kemanusiaan.
Salamat bagi Ibn Araby sebagaimana disinyalir William C. Chittick, bahwa keselamatan dapat dicapai melalui “adaptasi” atau proses penyelarasan dengan qadr (ukuran-ukuran) Tuhan. Qadr Tuhan adalah Syari’ah. Jika seseorang menyimpang dari qadr (syari’ah) tersebut, maka pada dasarnya tidak ada keselamatan bagi dirinya.

    Tuhan yang dimaksud Ibn Araby adalah Tuhan sebagaimana yang dikonsepsikan dalam al-Quran, yakni sebagai pencipta, pemelihara, dan pengatur kehidupan. Jika disandingkan dengan pemahaman masyarakat Jawa pra-Islam, (terutama pada jaman primitif), kepercayaan mereka ada kekuatan-kekuatan lain selain dirinya. Kekuatan di luar dirinya dinyatakan sebagai Tuhan, termasuk ruh nenek-moyang, kekuatan magis benda, dan lain sebagainya, yang di dalam Islam adalah sebagai makhluk Tuhan.

    Islam menganjurkan pemeluknya untuk mempercayai hal-hal ghaib (hal-hal yang kasat mata), seperti jin, malaikat, roh, dan makhluk ghaib lain. Makhluk-makhluk ghaib sebagaimana dijelaskan dalam al-Qur’an memiliki potensi (kemampuan) tertentu yang mungkin tidak dimiliki oleh jenis makhluk lainnya. Akan tetapi, kepercayaan dan keimanan tersebut menandaskan bahwa potensi(kekuatan) tersebut adalah potensi pemberian Allah, Tuhan semesta alam. Dengan kata lain, tidak ada kekuatan apapun jika tidak diberi oleh Allah.

     Penghargaan sesama makhluk diperbolehkan selagi tidak menjurus pada penuhanan (menjadikan Tuhan). Sesama manusia dianjurkan saling menghargai dan dilarang menyakiti. Demikian juga terhadap makhluk lain, termasuk kepada hewan, bahkan makhluk ghaib lain. Yang sangat dilarang adalah menuhankan bukan Tuhan dan me-makhluk-kan Tuhan. Dalam al-Quran, Allah adalah nama Tuhan umat Muhammad, selain menuhankan Allah, berarti menuhankan selain Tuhan. Memberi perlakukan khusus seperti perlakuan kepada Tuhan (penyembahan dan pengorbanan) adalah perbuatan syirik, yang disebut sebagai dosa besar.

Shadaqah dan Tala Bala
    Ada dua term penting dalam subbab ini yang perlu diuraikan, yakni term shadaqah dan tala bala’. Shadaqah berasal dari kata shadaqa – yasduqu – shidqan, shadaqah, yang berarti nyata, benar, persahabatan. Secara terminologis, shadaqah adalah pemberian dari seseorang kepada orang lain dengan tanpa pamrih apa-apa kecuali karena “persahabatan” dan ridha Allah. Pemberian shadaqah didasarkan pada ketulusan hati dan keihlasan. Hal ini terutama shadaqah diberikan kepada orang yang tepat (yang paling sangat membutuhkan). Sementara itu, term kedua tala bala’, berasal dari kata tala, dan bala’, artinya adalah mencegah musibah, kemadharatan.

    Seringkali shadaqah dihubungkan dengan tala bala. Istilah shadaqah juga terkadang dihubungkan dengan istilah syukuran. Hal ini karena dalam acara syukuran seringkali dihidangkan berbagai makanan sebagai sedekah (shadaqah). Memang shadaqah tidak terbatas pada pemberian yang sifatnya materi, tetapi juga imateri seperti mendoakan, ramah, senyum, dan lainnya.

    Dalam ajaran Islam, shadaqah memiliki posisi sangat penting sehingga lebih dari 25 kali disebut dalam al-Qur’an, dan lebih dari 500 Hadis yang menganjurkan untuk ber-shadaqah dalam berbagai bentuk dan variasinya. Lebih khusus disebut dalam sebuah Hadis yang sangat terkenal intinya adalah ada tiga perbuatan yang akan tidak akan putus sekalipun pelakunya telah meninggal dunia, yakni shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shalih yang mendoakan orangtuanya.

Demikian yang bisa saya sampaikan, jika banyak kesalahan mohon dimaafkan karena memang keterbatasan ilmu yang saya miliki. Semoga bermanfaat dan tetap semangat untuk Indonesia. mrgreen

Sumber: Muzaro.blogspot.com
Bagikan ke Facebook Bagikan ke Twitter

Komentar

28 tanggapan untuk "Tradisi Slametan Dalam Pandangan Islam"

Air-Fun pada 10:25, 13-Des-11

yang pertamax mo baca duluan,,,,,met siang Sob mrgreen

Dharmawan newbie pada 10:40, 13-Des-11

koment dulu bru baca. biggrin judulnya sangat menarik untk d simak.

Yansen Permansen pada 10:52, 13-Des-11

kunbal neh wuihhh subhanallah mantap jank

Taufik Adiluhur pada 12:28, 13-Des-11

@Air-Fun,
Siang juga brada, thanx dah berkunjung

@Dharmawan newbi,
Silahkan gan,

@Yansen Permansen,
Thankyu kunbalnya brada,
Tetap Semangat

Han pada 14:00, 13-Des-11

Met sore sob, thx infonya ya.

Taufik Adiluhur pada 15:13, 13-Des-11

@Han, sore juga brada, thanx juga kunjungannya brada.

Winarno pada 16:19, 13-Des-11

capek juga baca ny sob,tapi bermanfaat wink klo gk sbuk mampir y.....

Flambon pada 17:59, 13-Des-11

brtmbah lg ilmu ane sob..mksih ya

◊·`¯´.¸¸¦★gυητяαx★¦¸¸.´¯`·◊ pada 18:00, 13-Des-11

kunjungan malem sob..
Mantep postinganX biggrin
http://penceters.mywapblog.com

Symphonic Gothic's pada 18:04, 13-Des-11

wah artikelnya menarik nich bwt dbaca,nice post sob..thx yabiggrin

SoecackiLL pada 20:09, 13-Des-11

selamat malam sobat, absen telat ne

Taufik Adiluhur pada 21:59, 13-Des-11

@Winarno,
makasih dh smpetin bwt bca brada. Segera ane ke TKP.

@Flambon,
thankyu masta

@◊·`¯´.¸¸¦★gυητяαx★¦¸¸.´¯`·◊,
thanx kunjungannya brada.

@Symphoni ghotic,
sip gan,

@SoecackiLL,
gak pa2 brada.

Abeth pada 22:58, 13-Des-11

mantap gan...

Taufik Adiluhur pada 22:59, 13-Des-11

@Abeth,
makasih brada smile

Rachmat pada 05:41, 14-Des-11

baca + koment wink

BLACK LIONESS pada 09:28, 14-Des-11

nice info sob, sedikit tambahan versi aku sob,
slamatan, khususnya di jawa adalah ritual yang bermula dari ritual kaum hindu, ini bisa dilihat dari tatacaranya (kecuali doanya), ritual ini memang ada sisi positifnya yaitu kebersamaan dan tentunya niata shodaqoh melalui makanan yg disajikan, oleh para wali dulu, tradisi ini ttp dipertahan dengan tentu saja mantra2/kidung agama hindu diganti dgn doa2 Islami,
ok...thx udahb share

Taufik Adiluhur pada 09:57, 14-Des-11

@Rachmat,
Thanx sob.

@BLACK LIONESS,
Wah makasih tambahannya brada. Tetap semangat ya?

Iman Hijrah dan Jihad pada 23:59, 14-Des-11

Semangat brada!!!

sinyobain ® pada 08:45, 15-Des-11

Helow bos,yayaya,trnyata pembaca disuruh mengambil kesimpulan sndri yak bos??bgus bos,tdk menggurui dan menghakimi,tp ane msh krg sreg bos ma yg bgtuan,sprti kata si BLACK LIONESS ini,kdg kbaikkan memang jalanny berbeda2,tp apkah cra itu ad didlm Syariat islam??klo ane berpegang pada 3 yg terkenal itu bos,amal,ilmu,anak saleh8) ok dah bos sekian dlu,Diskusi sambil Ngopi tanpa Esmosimrgreen

Ayie pada 09:12, 15-Des-11

Salam dua jari sob..Sukses slalu dan teruslah berkaryabiggrinpeace

BLACK LIONESS pada 11:44, 15-Des-11

jujur aku sendiri emang kurang sreg dengan ritual ini, di satu sisi emang ada sisi positifnya, disisi lain bisa saja ritual ini disebut bid'ah, karena memang gak pernah ada di ajaran Islam, ini hanya asimilasi budaya, sekali lagi kita kembalikan ke keyakinan kita masing2, dan yg paling akhir...kembalikan semuanya kpd ALLAH, karena DIA lah yg menentukan diterima tidaknya amal perbuatan kita

Taufik Adiluhur pada 12:30, 15-Des-11

@sinyobain, maaf brada jika harus menyimpulkan sendiri..

@Ayie, oke shob.. Thanx dukungannya

@BLACK LIONESS,
terima kasih atas tanggapannya brada. Memang yang namanya slametan tidak ada dalam al qur'an/hadits. Tapi itu adalah warisan kultural dr nenek moyang yg perlu dilestarikan. Memang dari dulu antara kejawen dan ajaran Islam sudah menimbulkan polemik yang tak akan usai untuk dibhas. Benar kata ente, ini masalah keyakinan masing2. Dan yang paling akhir adalah mengembalikan semuanya kepada Allah SWT. Wallahua'lam.

Borneo Mobile Blog pada 06:32, 17-Des-11

nice info....,jangan lupa kunbal,folback+tukeran link mrgreen

Taufik Adiluhur pada 08:02, 17-Des-11

@Borneo Mobile Blog,
thanx brada. Segera ane laksanakan.

Ayie pada 16:16, 19-Des-11

Mantap sob,,bisa2 ntar jd sejarawanbiggrinpeace

kacong madura pada 17:28, 20-Des-11

waaaah,, di daerah ane malah sudah mentradisi yang beginian...
tapi ane cuma bisa bilang, "Dan carilah perantara untuk mendekatkan diri padaNya (Allah)"<al ayat>
okelah, nice post gan, salam persahabatan...

Muassamudraᓿ™ pada 09:03, 22-Des-11

betul ada hadistnya yakni "asshodaqotu tadfa'ul bala"
yg artinya adlah sedekah bisa mencegah marabaya atau yg memberi sedekah akan terhindar dari sgala coba, itulah jaminan dr nabi kita

sareva tsakila pada 07:52, 23-Des-11

ijin follow yaaaaaa smile

Langganan komentar: [RSS] [Atom]

Komentar Baru

[Masuk]
Nama:

Komentar:
(Beberapa Tag BBCode diperbolehkan)

Kode Keamanan:
Aktifkan Gambar