Sejarah Sinkretisme Budaya Islam dan Jawa

Di posting oleh Taufik Adiluhur pada 08:19 PM, 30-Jan-12 • Di: FILSAFAT ISLAM , FILSAFAT JAWA , KONSPIRASI
Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakatuh

Selamat malam sobat Adiluhur Blog's dimanapun berada. Apa kabar sobat? Lama tidak menyapa kalian, semoga senantiasa dalam keadaan sehat wal afiat tak kurang suatu apapun. Beberapa waktu lalu saya telah menulis artikel tentang Harmonisasi Islam dalam Kebudayaan Jawa, kali ini saya lanjutkan dengan Sinkretisme Budaya Islam dan Jawa yang banyak diperbincangkan baik di dunia nyata maupun dunia maya.

Menelisik sejarah Jawa yang menjadi tempat untuk didatangi bangsa-bangsa lain, dan kemudian menjadi tempat penyebaran dan tumbuh kembangnya agama-agama besar dunia, maka membuktikan bahwa budaya dan peradaban Jawa ramah dan toleran terhadap budaya dan peradaban lain. Bahkan kemudian ‘bersedia’ untuk bersinergi dan sampaipun ke masalah laku budaya spirituil. Dan sinerrgi tersebut akhirnya menghasilkan sinkretisme.

Penyebaran agama Islam di tanah Jawa pada abad ke-15 dihadapkan kepada dua jenis lingkungan, yaitu budaya kejawen (istana Majapahit) yang menyerap unsur-unsur Hindunisme dan budaya pedesaan. Dalam pada itu terjadi culture contact yang kemudian berbuah akulturasi antara dua arus nilai yang sama besarnya, yaitu asimilasi antara ajaran Islam dengan budaya Jawa, baik dalam lingkungan keraton maupun pedesaan.

A. Pengertian Sinkretisme

Secara etimologis, sinkretisme berasal dari kata syin dan kretiozein atau kerannynai, yang berarti mencampurkan elemen-elemen yang saling bertentangan. Adapun pengertiannya adalah suatu gerakan di bidang filsafat dan teologi untuk menghadirkan sikap kompromi pada hal yang agak berbeda dan bertentangan. Simuh menambahkan bahwa sinkretisme dalam beragama adalah suatu sikap atau pandangan yang tidak mempersoalkan murni atau tidaknya suatu agama. Oleh karena itu, mereka berusaha memadukan unsur-unsur yang baik dari berbagai agama, yang tentu saja berbeda antara satu dengan yang lainnya, dan dijadikannya sebagai satu aliran, sekte, dan bahkan agama. Menurut Sumanto al-Qurtubi, “proses sinkretisme menjadi tak terelakkan ketika terjadi perjumpaan dua atau lebih kebudayaan/tradisi yang berlainan”.

Dalam menerangkan keberagaman masyarakat Jawa, kuncaraningrat membagi mereka menjadi dua, yaitu agama Islam Jawa dan agama Islam Santri. Yang pertama kurang taat kepada syariat dan bersikap sinkretis yang menyatukan unsur-unsur pra-Hindu, Hindu, dan Islam, sedangkan yang kedua lebih taat dalam menjalankan ajaran agama Islam dan bersifat puritan. Namun demikian, meski tidak sekental pengikut agama Islam Jawa dalam keberagamaan, para pemeluk Islam santri juga masih terpengaruh oleh animisme, dinamisme, dan Hindu- Budaha.

B. Latar Belakang Munculnya Sinkretisme Islam-Jawa

Membaca lahirnya sinkretisme Islam-Jawa ada baiknya jika dihubungkan dengan masuknya Islam di Jawa. Ada tiga hal yang sangat penting untuk diketahui berkaitan dengan latar belakang sejarah sinkretisme Islam-Jawa.

Pertama, pada waktu itu sejarah Islam tercatat dalam periode kemunduran. Runtuhnya Dinasti Abbasiyah oleh serangan Mongol pada 1258 M., dan tersingkirnya Dinasti Al-Ahmar (Andalusia/Spanyol) oleh gabungan tentara Aragon dan Castella pada 1492 M menjadi pertanda kemunduran politik Islam. Begitu juga arus keilmuan dan pemikiran Islam saat itu terjadi stagnasi. Hal ini berpengaruh pada tipologi penyiaran Islam yang elastis dan adaptif terhadap kekuatan unsur-unsur lokal, mengingat kekuatan Islam baik secara politik maupun keilmuan sedang melemah. Bertepatan pada akhir abad XV di mana terjadi Islamisasi secara besar-besaran di tanah Jawa, maka metode dakwah Islam seperti pada umumnya waktu itu bercorak apresiatif dan toleran terhadap budaya dan tradisi setempat.

Kedua, pandangan hidup masyarakat Jawa sangat tepo seliro dan bersedia membuka diri serta berinteraksi dengan orang lain. Menurut Marbangun Hardjowirogo, masyarakat Jawa lebih menekankan sikap atau etika dalam berbaur dengan seluruh komponen bangsa yang bermacam-macam suku dan bahasa, adat dan termasuk agama. Karena manusia Jawa sadar bahwa tak mungkin orang Jawa dapat hidup sendiri. Pandangan demikian senada dengan filsafat Tantularism khas Jawa yang mengajarkan humanisme dalam segala bidang sinkretismeme.

Pandangan hidup masyarakat Jawa seperti ini lebih mempermudah dalam menerima ajaran Islam yang kategorinya paham asing. Akhirnya proses interaksi antara keduanya tidak bersifat konfrontatif, sebaliknya bersifat akomodatif dan toleran. Kedua hal itulah yang melatarbelakangi sinkretisme Islam dengan budaya kejawen terjadi sangat mudah dan seakan tanpa sekat.

Ketiga, sebelum Islam membumi di Jawa, yang membingkai corak kehidupan masyarakat adalah agama Hindu-Budha serta kepercayaan animisme maupun dinamisme. Hindu, Budha, animisme maupun dinamisme yang menjadi system kepercayaan atau agama tentunya (sesua agama-agama lain) telah mengajarkan konsep-konsep religiusitas yang mengatur hubungan menusia dengan Tuhan yang diyakini sebagai pencipta alam.

Spiritualitas dan religiusitas yang menjadi pijakan keberagamaan orang Jawa yang terkandung dari keempat unsur tersebut jika kita benturkan dalam “kesalihan” Jawa tidak lain adalah untuk mencapai satu titik tertinggi, yaitu kasunyatan atau kesejatian hidup. Tak berbeda dengan Islam, sebagai ajaran agama nilai-nilai ajaran yang ada di dalamnya pun memuat prinsip-prinsip kepercayaan masyarakat Jawa, khususnya berkaitan dengan keberadaan sang pencipta atau Tuhan. Dalam semua tradisi tersebut, termasuk Islam, Tuhan merupakan wujud kekuatan adikodrati yang mengendalikan segala sesuatu yang manusia harus tunduk kepada-Nya dalam bentuk pengabdian.

Dengan menggunakan kerangka berpikir sedemikian, Islam menjadi mudah diterima dan menyatu di dalam masyarakat merupakan sebuah keniscayaan yang tak terhindarkan. Pandangan Jawa yang meyakini agama ageming aji, adalah falsafah yang mengajarkan bahwa agama merupakan sebuah ajaran agar kehidupan yang dijalani mendapatkan kebahagiaan dan ketentraman sesuai dengan norma-norma dan nilai-nilai kemanusiaan dan nilai-nilai ketuhanan.

Tiga hal inilah yang melatarbelakangi masuknya Islam di tanah Jawa terhitung cukup mudah dan bisa berinteraksi secara damai dengan masyarakat. Tetapi di samping itu, tidak terlepas pula peran besar Walisongo yang menggunakan metode yang toleran dan akomodatif terhadap budaya dan agama Jawa.


Sumber: asa-90.blogspot.com
Bagikan ke Facebook Bagikan ke Twitter

Komentar

21 tanggapan untuk "Sejarah Sinkretisme Budaya Islam dan Jawa"

Iman Ae "C_Taurus" pada 08:30 PM, 30-Jan-12

wah thanks sob.. Jd tau ane..smile

Iman Ae "C_Taurus" pada 08:34 PM, 30-Jan-12

wah thanks sob.. Jd tau ane..smile

Taufik Adiluhur pada 08:43 PM, 30-Jan-12

@Perpustakaan Online,
thanx dah berkunjung sob,.
@Iman Ae "C_Taurus",
sama2 sob. Thanx jga dh brkunjung smile

Latif Mualim pada 09:12 PM, 30-Jan-12

thks buat infone..

Ire-Funz™ | 'Hanozi Mobile' pada 09:26 PM, 30-Jan-12

hadir Sob, sekalian izin nyimak...!

Taufik Adiluhur pada 09:31 PM, 30-Jan-12

@Latif Mualim, sama2 sob.. Thanx dah berkunjung..
@Ire-Funz, thanxQ sob.. Monggo dibaca,. smile

Dulayex pada 10:13 PM, 30-Jan-12

para wali songo memang jdi tladan. Met mlam sob

MF GLORY pada 08:52 AM, 31-Jan-12

hmmm kurang ffaham zob. ane coba baca ulang yah.
thanks for sharing

Borneo Mobile Blog pada 09:34 AM, 31-Jan-12

Nyimak sob,,,,mantap postx….,I like it….

Ato7 J W pada 09:49 AM, 31-Jan-12

mantep kang lanjut terus

Andri Apriadi pada 03:36 PM, 31-Jan-12

kunjungan siang gan,, ijin nyimak aja..
Dtnggu kunjungan baliknya mrgreen

Adiluhur pada 07:49 PM, 31-Jan-12

@Dulayek,
iya sob, kegigihan mereka membuahkan hasil
@MF GLORY,
silahkan dipahami dulu sob
@Borneo Mobile Blog, oke silahkan disimak..
@Ato7 J W, thankyou sob
@Andri Apriadi, thanx sob, segera menuju TKP
smile biggrin mrgreen

Junotz pada 05:27 AM, 01-Feb-12

jawa barat kayaknya beda ama tradisinya jateng ato jatim

Terang Bermakna pada 01:51 PM, 02-Feb-12

Ndak mudeng eek

ЕЯШЇИΖ GRETONGERZ pada 01:09 PM, 03-Feb-12

Nice share kwansmile



http://ewing.mywapblog.com/
penampakan-legenda-master-
handler.xhtml

Aden pada 02:10 PM, 03-Feb-12

Assalamu'alaikum...keren kang post'a

Boleh request g kang soal sejarah wali songo biggrin

dtunggu follbeck'a smile

◊·`¯´.¸¸¦★gυητяαx★¦¸¸.´¯`·◊ pada 08:14 PM, 03-Feb-12

postingan sejarah.a nya mantap banget bos..

Furcqon pada 07:01 AM, 05-Feb-12

kunjungan balik sobat, nice post

Ato7 J W pada 12:15 PM, 05-Feb-12

silvi pada 10:45 PM, 01-Mar-12

lagi cari refrensi tentang sinkretisme,, soalnya skrpsiq membahas tentang itu,,, dan bingung untuk menentukan kategori yang bakal aq masukan dalam tabel coding,,,
karena yang jadi kategori kebanyakan unsur2, n skrg bgung untuk menentukan unsur sinkretisme yg bakal q jadikan kategori,,,, (curcol) hehehehhe

insidewinme pada 10:15 AM, 16-Mar-12

Kita menghendaki kebangkitan yang benar dan berdiri di atas pencampakan semua akidah, pemikiran atau sistem yang tidak terpancar dari Islam. Kita pun menghendaki kebangkitan yang tegak di atas pelepasan segala hal yang menyalahi Islam sejak dari akarnya. Semua itu tidak akan pernah tercapai, kecuali dengan melanjutkan kehidupan Islam dan mengubah negeri dari dar al-kufr menjadi Dar al-Islam.

Langganan komentar: [RSS] [Atom]

Komentar Baru

[Masuk]
Nama:

Komentar:
(Beberapa Tag BBCode diperbolehkan)

Kode Keamanan:
Aktifkan Gambar