Rasa Sejati Lan Sejatining Rasa

Di posting oleh Taufik Adiluhur pada 11:56 AM, 30-Apr-12 • Di: FILSAFAT JAWA

Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakatuh

Sobat Adiluhur yang budiman, kembali saya hadir ditengah kalian dengan sedikit pengetahuan tentang falsafah Jawa yang saya ketahui. Pada kesempatan kali ini saya mencoba mengupas sebuah paham/falsafah dari kehidupan Orang Jawa. Jika sobat bisa memahami, sejatinya semua suku/budaya memiliki sebuah ciri khas tertentu yang tidak dimiliki oleh suku/budaya lain. Dalam hal ini, karena saya sendiri adalah orang Jawa, saya mencoba memahami tentang kehidupan orang Jawa yang pada hakikatnya setiap lakunya dalam kehidupan sehari-hari selalu mengedepankan rasa (perasaan yang ada dalam hati).

Ada sebuah pepatah Jawa yang mengatakan "Orang Jawa nggone rasa". Artinya, hidup orang Jawa berselimut rasa. Dalam pengartian bebas saya, pepatah ini mengandung pengertian bahwa setiap laku dan perilaku dalam kehidupan orang Jawa tidak lepas dari perhitungan akan rasa dalam diri. Orang yang ingin menjadi Jawa, perlu menyelami rasa. Orang yang telah Jawa, berarti segala sikap dan perilakunya rasa yang bermain. Rasa merupakan kulit daging. Maka ada istilah raos Jawi (rasa Jawa). Yakni, suatu kesadaran hidup yang dilandasi oleh ke-Jawa-an.

Orang yang hidup angon rasa, artinya memelihara rasa, akan menanggung malu besar-besaran. Itulah sebabnya, olah rasa menjadi wajib dalam siklus kehidupan Jawa. Seni olah rasa menjadi cabang ngelmu yang amat rahasia. Kegagalan olah rasa, hidup akan sia-sia. Karena, orang tersebut akan menanggung beban rasa selama hidup, sulit terhapuskan. Seni olah rasa yang paling menggetarkan dalam praktik kehidupan Kejawen adalah bawa rasa. Laku ini merupakan arena sakral untuk mengupas gagasan tentang rasa Jawa yang terdalam. Yang menjadi tonggak pembicaraan adalah surasa, yakni rasa yang hebat. Rasa yang bernilai plus, lebih, yakni rasa sejati dan sejatining rasa. Saling bertukar rasa (nggelar ngelmu rasa) biasanya mencari saat tepat. Yakni, ketika tengah malam (madya ratri), biasanya Malem Selasa Kliwon atau Malem Jemuwah Kliwon. Hari yang dianggap sakral dan penuh hikmah.

Rasa sejati dan sejatining rasa adalah bangunan spiritual yang penuh makna. Orang yang tahu hal ini belum tentu mampu menghayati. Apalagi yang sekadar tahu kulitnya, atau bahkan salah memahami, hidupnya mungkin tak akan menggunakan rasa. Maka ada orang hidup yang sebenarnya tak hidup. Mereka hidup hanya raga saja, rasa telah hilang. Mereka telah mati rasane, artinya tak memiliki rasa apa saja. Rasa malu, senang, susah, gembira, sakit, sosial, telah habis. Dapat anda bayangkan, ketika di jalan berjumpa dengan orang gila tak berpakaian, dengan orang yang lari dari kamar mandi sementara handuk yang dikenakan lepas. Keduanya sama-sama telanjang bulat, namun orang gila telah mati rasanya, sedangkan orang yang mandi akan tersipu malu.

Jika demikian, rasa itu ada ketika orang sadar pada dirinya atau telah mengenal diri pribadinya. Rasa itu muncul pada saat hidup menggunakan rasa. Pada waktu rasa tak berfungsi, habis sudah riwayatnya. Dengan kata lain, orang gila itu sebenarnya telah mati. Orang gila itu tak memakai rasa, apalagi rasa sejati dan sejatining rasa jelas tak punya. Begitu pula jika ada orang normal kok hilang rasanya, berarti sama halnya dengan bangkai yang hidup. Tegasnya, rasa itu yang akan membedakan orang itu hidup sejati atau tidak.

Dalam diri seseorang ada ribuan atau bahkan jutaan rasa. Ribuan dan jutaan rasa ini menjadi bawahan rasa sejati dan sejatining rasa. Ada rasa igin menang sendiri. Ada rasa ingin mengalah terus. Rasa ingin balas dendam, rasa hidup, rasa tanggap, rasa mati, rasa unggul, rasa cinta, dan sebagainya. Seluruh elemen rasa akan membakar jiwa manusia. Sifat semua rasa adalah halus, tersembunyi. Hanya orang yang cerdas (landhep pangrasane) saja yang mampu menerka rasa orang lain.

Dalam segala bentuk, rasa akan berkibar. Rasa akan bercampur dengan keinginan, pikiran, dan hawa nafsu. Seluruh hal ini hampir sulit dipisahkan. Hanya bisa dibedakan ketika seluruh rasa itu lari dari rasa sejati dan sejatining rasa. Namun, perlu disadari bahwa dalam berbagai ilmu yang saya kejar, hampir belum bisa menjelaskan rasa sejati, apalagi sejatining rasa. Ilmu yang beratribut psikologi saja masih ragu memaknai kedua hal ini. Teori rasa secara umum, hampir patah semangat jika dikejar sampai hakikat kedua masalah ini. Hanya seorang guru spiritual Kejawen, yang dapat membeberkannya.

Lebih lanjut tentang "Rasa Sejati dan Sejatining Rasa" akan saya bahas pada kesempatan berikutnya karena keterbatasan ruang dan waktu. Jangan lupa kunjungi juga how mywapblog are you yah?

Wassalamu'alaikum warahmatullah wabarakatuh

Bagikan ke Facebook Bagikan ke Twitter

Komentar

10 tanggapan untuk "Rasa Sejati Lan Sejatining Rasa"

Aunul Rafik pada 12:03 PM, 30-Apr-12

nyimak aja y sob kunbal ny di tunggu

ムのみど でず™ pada 01:14 PM, 30-Apr-12

kunjungan siang sob....

Dopleek Hollow pada 03:05 PM, 30-Apr-12

puanjang buangetmrgreentapi top banget dah walupun bacanya setengah anemrgreenhihi hampuranya lurmrgreen

CHIRENK™ pada 07:11 PM, 30-Apr-12

nyimak aja sob

©»Ivankz«`_`_`© pada 05:49 AM, 01-May-12

Met pag gan asyknx nymak+minum kopi mrgreen

Robi Nuryana sv2™ pada 08:45 AM, 01-May-12

mampir sob mrgreen

Budi Berpekerti Luhur pada 02:14 PM, 01-May-12

assalamu'alaikum..
Wah..ndelok judule ae wes mrinding.filosofi tingkat duwur ki gus

arrowhttp://boedhie.heck.in

NaFhyta.heck.in pada 02:01 AM, 02-May-12

Absen malam
Gabung ya

http://banjarnegara.Co.Nu
makasih
biggrin

Irfan Fudhori pada 12:15 PM, 02-May-12

mantep lur..! ane sempatin hadir dan berkunjung..!

matihidup sama pada 02:07 PM, 20-Sep-12

peperangan bap diri. bagus pak. ono roso ono eling ono napas dadi urip.

Langganan komentar: [RSS] [Atom]

Komentar Baru

[Masuk]
Nama:

Komentar:
(Beberapa Tag BBCode diperbolehkan)

Kode Keamanan:
Aktifkan Gambar